ACEH UTARA – Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Johan, S.Pd., M.Pd., menerbitkan sebuah karya intelektual yang menjadi konsep kepemimpinannya yaitu buku berjudul “Membangun Budaya Mutu Sekolah di Aceh Utara.”
Buku tersebut merupakan kolaborasi visi-misi pendidikan, Gubernur dan Bupati, Aceh Utara Bangkit” sektor pendidikan.
Langkah cepat yang dilakukan Kacabdin Muhammad Johan memberikan sinyal kuat bahwa ia memandang jabatannya sebagai platform untuk mewujudkan ide-ide transformatif, yang salah satunya ia bukukan sebagai pedoman kerja.
Kepada jurnalis dalam sebuah wawancara ekslusif di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2025), Kacabdin Muhammad Johan menyampaikan bahwa ide peluncuran buku tersebut lahir dari Analisis Lapangan yang dilakukan untuk mengumpulkan poin-poin yang harus disusun dalam karya tulisnya.

Johan menjelaskan bahwa penerbitan buku ini bukan sekadar ambisi menulis, melainkan respons cepat terhadap amanah yang ia terima. Begitu mendapatkan tugas memimpin, ia langsung bergerak cepat melakukan analisis lapangan terhadap 87 sekolah meliputi SMA, SMK, hingga SLB.
“Begitu saya dilantik, saya tergambar langsung apa yang harus saya lakukan. Saya turun ke lapangan, saya crosscheck lapangan, ambil data, apa kendala-kendala,” ungkap Johan.
Konsep ini lantas dituangkan menjadi sebuah tulisan yang matang, disusun sedemikian sempurna berdasarkan pengetahuannya dan disempurnakan melalui koordinasi intensif dengan tim editor dari universitas lokal di Aceh, seperti IAIN dan UNIMAL. Buku setebal 81 halaman ini kemudian diterbitkan di Syiah Kuala, Banda Aceh, dengan jumlah edisi perdana sebanyak 100 eksemplar.
Disampaikan Johan, buku “Membangun Budaya Mutu Sekolah di Aceh Utara” dirancang sebagai peta jalan untuk memajukan sektor pendidikan di wilayah tersebut. Inti dari konsep yang ditawarkan adalah perpaduan antara standar mutu modern dengan nilai-nilai budaya dan spiritual Aceh yang kuat.
Johan secara eksplisit mengintegrasikan sejumlah kata kunci kearifan lokal sebagai filosofi pendidikan yang antara lain “Aneuk Meutuwah” dan “Beucaroeng Beumuceuhu” (Mendidik anak yang cerdas, berkarakter, dan berpengaruh). “Aneuk Talindong, Agama Tapeukong” (Menjadikan agama sebagai pondasi utama pendidikan). “Aneuk Ceureng Tanyoe Sejahtera” (Pendidikan sebagai jalan menuju kesejahteraan).
Filosofi ini mencerminkan komitmen untuk membentuk generasi yang tidak hanya pintar secara akademik—seperti yang juga diamanahkan oleh kutipan pengantar yang dicantumkan pada sampul buku—tetapi juga berakhlak mulia, cerdas secara spiritual, dan berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
“Arahnya, saya ingin membawa pendidikan di Aceh Utara ini bagaimana semua sekolah mengejar kepada mutu. Agar alamatnya lebih tepat, maka saya berikhtiar menulis sebuah tulisan hingga melahirkan sebuah buku sebagai pedoman di sekolah,” tegas Kacabdin Muhammad Johan kepada jurnalis.
Johan menekankan bahwa penerbitan buku ini adalah inisiatif mandiri untuk menciptakan konsep yang terukur dalam memikul amanah sebagai pemimpin dalam sektor pendidikan wilayah Aceh Utara. Ia kemudian ingin memastikan konsepnya sejalan dengan harapan Gubernur Aceh.
Lebih dari sekadar pedoman, buku ini juga membawa pesan bahwa peningkatan mutu pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. “Tanggung jawab pada sektor pendidikan di Aceh Utara ini kan tidak hanya satu orang, tetapi tanggung jawab bersama. Bukan hanya satu lembaga, bukan Dinas Pendidikan saja yang bertanggung jawab pendidikan, tapi semua, semua itu turut harus bertanggung jawab.”
Oleh karena itu, rencana launching buku ini akan melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Aceh dan Bupati setempat. Buku ini juga dilengkapi dengan pengantar dari berbagai praktisi yang dianggap berpengaruh terhadap pendidikan di Aceh Utara.
Mempersiapkan SDM Unggul dan Berdaya Saing
Dengan adanya pedoman tertulis ini, Muhammad Johan menaruh harapan besar pada para garda terdepan pendidikan.
“Garda terdepan adalah guru dan kepala sekolah. Harapan saya dengan ada pedoman ini bisa bergerak dan bisa berinovasi,” katanya.
Ia mendorong para guru dan kepala sekolah di 87 sekolah tersebut untuk tidak menyerah dalam membangun mutu pendidikan, melihatnya sebagai solusi mendasar atas berbagai konflik di daerah. Harapan puncaknya adalah menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional.
Menurutnya, buku ini merupakan langkah awal yang inspiratif. Johan juga mengisyaratkan bahwa ini bukan karya terakhirnya. Ia sudah merencanakan “episode selanjutnya” tentang ‘Kepemimpinan Transformasi,’ sebuah pedoman bagaimana kepala sekolah dapat memimpin dengan cara yang transformatif. Ini membuktikan bahwa Muhammad Johan bertekad menjadikan karya intelektual sebagai inti dari gerakannya membangun pendidikan di Aceh Utara. (Jamal Lsmw)


