ACEH UTARA — Pemerintah Kabupaten Aceh Utara didesak agar segera mengambil tindakan untuk menangani persoalan krisis air bersih di dua Kecamatan yaitu Baktiya dan Tanah Jambo Aye.
Salah satu desa terparah mengalami krisis air bersih di Baktiya yakni Gampong Alue Bili Geulumpang. Begitu juga di desa-desa lain seperti Gampong Matang Seuke Pulot di Kecamatan Tanah Jambo Aye.
Informasi diperoleh dari warga Alue Bili Geulumpang, mereka sudah 5 bulan mengalami krisis air bersih, setelah kawasan tersebut diterjang bencana banjir. Adapun jaringan PDAM di kawasan itu tidak berfungsi.
“Empat dusun di sini, satu dusun air PDAM hidup-mati. Tiga dusun tidak hidup sama sekali. Pemerintah seharusnya peka terhadap cuaca panas saat ini, ekstrem, sumur-sumur kering,” ujar seorang warga yang tidak perlu disebut namanya.
Bukan hanya dua desa itu, hampir 90 persen desa lain di berbagai kecamatan juga mengalami hal serupa pasca-banjir. Namun, hingga saat ini tidak ada perhatian dari pemerintah.
“Jika pihak pemerintah ingin cek ke Gampong ya turun dong, jangan hanya cek di rumah pinggir jalan perkotaan. Turun ke desa-desa pelosok desa. Jangan malas-malas ya,” ajak warga.
Warga sulit untuk mendapatkan air bersih dikarenakan sumur mereka mulai kering. Sementara sumber lain seperti sungai juga ikut kering dan jikapun ada air tetapi keruh.
“Masalah bagaimana cara menanganinya itu urusan pemerintah, bukan urusan kami rakyat. Cara ya dipikir oleh mereka yang punya jabatan,” ujar warga.
Perumda Tirta Pase yang menangani persoalan air bersih hingga saat ini belum terhubung dengan wartawan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.[]


